SIMAK SINOPSIS VIDEO BERIKUT
BAB I
Pendahuuluan
A.
Latar Belakang
Pendidikan
adalah suatu proses belajar, yaitu belajar dari yang tidak tahu menjadi tahu.
Pendidikan dengan segala perangkat pembelajarannya merupakan sarana yang
efektif untuk proses pembentukan ideology manusia. Tujuan pendidikan memuat
tentang gambaran nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk
kehidupan. Dalam dunia seni, film dijadikan sebagai salah satu media
pengungkapan kehidupan manusia dalam mewujudkan nilai-nilai pendidikan.
Sokola
Rimba menceritakan tentang kehidupan nyata Butet Manurung saat mengajar Orang
Rimba, suku Nomaden yang tinggal di hutan wilayah Jambi, Butet menyadari bahwa
Orang Rimba perlu dibekali pengetahuan untuk menghadapi tekanan modernisasi.
Butet tak kenal lelah memperkenalkan baca-tulis kepada Orang Rimba agar mereka
sadar dan mampu mempertahankan hak-hak mereka.
Butet
yang bersusah payah mengajarkan baca-tulis kepada Orang Rimba tidak selamanya
berjalan mulus karna orang rimba beranggapan bahwa pendidikan itu membawa sial.
Tetapi hal itu tidak membuat Butet Menurung patah semangat dalam memperkenalkan
baca tulis kepada Orang Rimba, Butet Menurung beserta rombonganya berhasil
mendapatkan beberapa murid, termasuk kisahnya saat terbirit-birit dikejar
beruang, ketakutan diancam perambah hutan, hingga suka-duka hidup dalam budaya
yang sama sekali berbeda.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
yang dimaksud dengan model dan metode pembelajaran ?
2.
Model
dan Metode pembelajaran apa yang digunakan tokoh pendidik (guru) dalam film
soko anak rimba ?
3.
Bagaimana
menerapkan model dan metode pembelajaran pada siswa (peserta didik) dalam film
sokolah anak rimba ?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui
konsep model dan metode pembelajaran
2.
Model
dan Metode pembelajaran yang digunakan dalam film soko anak rimba.
3.
Menerapkan
model dan metode pembelajaran didalam film sokolah anak rimba
BAB
II
Pembahasan
A.
Konsep Model dan Metode Pembelajaran
Fadhilah Sura laga (2021) Model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai
kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur
sistematik dalam pengorganisasian pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Model pembelajaran menggambarkan keseluruhan urutan alur
atau langkah- langkah yang pada umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran. Dalam model pembelajaran ditunjukkan secara jelas kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan oleh guru atau peserta
didik, bagaimana urutan kegiatan-kegiatan tersebut, dan tugas-tugas khusus apa yang perlu dilakukan oleh peserta didik.
Selanjutnya, dalam satu
model pembelajaran bisa terdiri atas beberapa metode pembelajaran. Misalnya,
untuk pelaksanan “model bermain peran” bisa terdiri
dari beberapa metode,
yaitu: metode ceramah
(guru menjelaskan masalah),
metode penugasan (peserta didik diminta
untuk mencari jawaban terhadap masalah yang diajukan
oleh guru dalam kegiatan bermain peran), dan
metode diskusi (peserta
didik mendiskusikan tentang
peran yng telah dilakukan).
Fadhilah
Sura laga (2021) Metode, secara harfiah berarti
“cara”. Dalam pemakaian
yang umum, metode diartikan sebagai
suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Kata "pembelajaran" berarti
segala upaya yang dilakukan
oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri peserta didik. Jadi, metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan
materi pelajaran yang
dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri peserta
didik dalam upaya untuk mencapai
tujuan
B.
Gambaran singkat Film Sokola Rimba
Film
Sokola Rimba menceritakan tentang seorang perempuan bernama Butet Manurung yang saat itu bekerja di
lembaga konservasi bernama Wanaraya
yang berada di daerah Jambi. Butet juga rela mendatangi kelompok
pedalaman rimba di Bukit Dua belas hulu Sungai Makekal untuk mengajari mereka
membaca dan menulis. Suatu hari dia dengan dua anak didiknya yang bernama Beindah dan Negkabau mendatangi kelompok Temanggung
Balaman Badai untuk meminta izin memasuki wilayah hilir dan mengajar di sana.
Esok harinya kepala adat hilir menyetujui Bu Butet untuk mengajari anak-anak
pedalaman hilir.
Dari sinilah cerita dimulai, setiap hari Bu Butet
mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan
sekitarnya dan mengajari anak-anak untuk
membaca. Bu Butet sangat bersemangat ketika ada seorang murid bernama Bungo
yang amat tertarik untuk bisa membaca. Namun ternyata Bungo membawa sebuah
surat perjanjian kemanapun dia pergi yang isinya tidak ia ketahui.
Suatu
hari warga Tumenggung Balaman Badai kedatangan tamu. Mereka membawa sembako, biskuit,
gula, dan rokok dengan tujuan untuk menguasai
pedalaman yang orang rimba tinggali. Orang-orang rimba tidak mengetahui isi perjanjian yang pembalak liar ajukan, mereka
ditipu berulang kali oleh karyawan
perusahaan kelapa sawit untuk
membubuhkan cap jempol tanpa mengetahui isi suratnya.Sehingga mereka dirugikan karena
harus berpindah-pindah tempat selama tiga kali namun mereka tidak bisa berbuat
apa-apa lagi. Hingga terjadi permasalahan dimana para orang tua anak pedalaman
merasa anaknya lebih suka belajar daripada membantunya bekerja, berladang dan
berburu.
Mereka
meyakini bahwa pensil dan buku adalah sumber penyakit dan apabila anaknya
sukses dalam belajar maka dia akan pergi dan tak akan kembali lagi. Oleh karena
itu, Bu Butet tidak diperbolehkan lagi untuk mengajar dan berada di daerah itu oleh Ketua Adat.
Tokoh
Butet pun akhirnya pergi kembali ke kantor Wanaraya, namun di sana dia dimarahi
oleh pimpinan lembaga yang bernama Bahar karena pergi ke hilir tanpa izin
selama 20 hari dan melakukan perluasan mengajar hingga daerah hilir.
Pak
Bahar memerintahkan Bu Butet untuk sudah cukup dalam mengajar karena bukan itu
tugas utama lembaga konservasi. Namun Bu Butet menentang karena tanpa
diketahui, sebenarnya wilayah yang sedang di lindungi oleh lembaga konservasi
justru sedang dikuasai oleh para
penggalak liar yang ingin menanam tanaman kelapa sawit. Butet tidak gentar
ingin membantu orang-orang pedalaman melalui pendidikan agar mereka tidak lagi tertipu
oleh orang-orang luar yang ingin merusak hutan.
Butet
pun melakukan segala cara agar tetap dapat mengajar, hingga suatu hari ketika
dia datang membawa banyak dana donasi yang dihasilkannya dari seminar kampus
dia terkaget ketika Bungo dapat memahami isi surat yang diberikan orang asing
dan menolak menyetujui perjanjiannya. Dari situ warga daerah pedalaman meyakini
pentingnya pendidikan.
C.
Tokoh Pendidik, Peserta Didik, dan
Sekolah Sokola Rimba
1.
Tokoh
Pendidik Dalam Film Sokola Rimba
Sosok
Butet Manurung digambarkan sebagai sosok Pendidik/guru yang pantang menyerah, berjiwa sosial tinggi, dan berani
mengambil resiko. Dia penuh dengan ide-ide kreatif, mampu beradaptasi dalam lingkungan
baru, serta memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Dari sosok Butet ada nilai
yang dapat diambil, dia rela berkorban ketika harus menggunakan uangnya
sendiri, diajuga mau mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada istri pemuda
yang cemburu karena mengobrol.
Fadhilah
Sura laga (2021) ada beberapa peran penting dari psikologi pendidikan bagi
pendidik atau guru, yakni dapat 1) memahami siswa sebagai pembelajar, yang
meliputi perkembangannya, karakteristik, kemampuan dan kecerdasan, motivasi, minat,
pengalaman, sikap, kepribadian, dan lain-lain; 2) prinsip-prinsip dan teori pembelajaran;
3) memilih metode-metode pembelajaran; 4) memilih dan menetapkan tujuan
pembelajaran; 5) membantu peserta didik yang
mengalami
kesulitan belajar; 6) memilih alat bantu pembelajaran; 7) menilai hasil
dari proses pembelajaran; 8)
memilih sistem evaluasi yang tepat, dan lain-lain.
Dengan
begitu dapat dikatakan bahwa tokoh Bu Butet dalam film Sokola Rimba mencerminkan bahwa dia memiliki penguasaan
yang baik terhadap psikologi
pendidikan. Terbukti di dalam adegan yang memperlihatkan Bu Butet yang tau akan
kemampuan anak-anak rimba, tau akan minat dan menerapkan metode pembelajaran
yang tentunya tidak disamakan dengan pendidikan formal seperti biasanya. Namun Bu Butet lebih mengajarkan
sesuai dengan adat dan tradisi agar apa yang dipelajari anak-anak rimba
nantinya dibutuhkan juga di wilayahnya.
Dijelaskan
juga dalam buku karya M. Sobary Sutikno (2019) bahwa guru yang efektif itu
memiliki pengetahuan dan keterampilan yang profesional, serta memiliki
komitmen, motivasi, dan kepedulian yang tinggi.
Sosok
Bu Butet dapat dikatakan sebagai guru yang efektif karena unsur-unsur tersebut
telah ada pada diri Bu Butet. Fadhilah Sura laga (2021) Guru yang efektif harus
memiliki komitmen pada tugasnya, motivasi yang kuat juga peduli pada siswa dan
kolega, serta menunjukkan sikap yang positif.
Selain
itu ketika hendak mengajar anak-anak kawasan Rimba, Bu Butet melakukan berbagai
pendekatan agar dapat diterima dan tidak menerima penolakan. Dia belajar keras bahasa
mereka, menggunakan sandang sebagaimana orang rimba, ikut berburu dan memakan
apa saja yang mereka makan.
Dengan
begitu sosok Butet Manurung dapat dikatakan bahwa Butet Manurung memiliki
profesionalisme sebagai seorang guru. Selain itu Bu Butet juga menerapkan
proses pembelajaran yang berulang-ulang
terus menerus dan memberkan motivasi kepada Beindah ketika melakukan tes
pengulangan perhitungan menajwab dengan benar, dia juga kerap kali meminta
Nengkabau membaca dan
meminta yang lainnya untuk mendengarkan dan mengkoreksi.
2.
Tokoh
Peserta Didik Dalam Film Sokola Rimba
Jika
mengacu pada pembagian tahapan perkembangan anak, maka anak usia sekolah berada
dalam dua masa perkembangan, yaitu masa kanak-kanak tengah (6 s.d. 9 tahun) dan
masa kanak-kanak akhir (10 s.d. 12 tahun).
Fadhilah
Sura laga (2021) menyatakan, Periode anak-anak merupakan periode yang mempunyai rentang usia yang cukup panjang
yaitu usia dua tahun sampai usia 12 tahun. Namun periode
awal kanak-kanak memiliki ciri khas yang berbeda dengan masa
akhir kanak-kanak, sehingga banyak
ahli perkembangan yang membagi periode ini menjadi dua rentang periode,
yaitu periode kanak-kanak awal dan
periode kanak-kanak akhir.
Setiap
peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda-beda, baik secara kognitif, kecakapan
bahasa, kecakapan motorik, bakat, kesiapan dalam belajar, dan tentunya latar
belakang.
Fadhilah
Sura laga (2021), Motivasi
belajar merupakan kekuatan yang menggerakkan d a
n m e
n garahkan kegiatan belajar. Dengan
adanya motivasi belajar, peserta didik akan berusaha mencari informasi dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Motivasi secara umum
dapat dibedakan menjadi motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi
intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi hal itu sendiri
(sebuah tujuan yang sesuai dengan kegiatan itu sendiri). Misalnya, seorang
siswa belajar dengan keras karena ia menyukai materi yang dipelajarinya untuk bisa
menguasai materi tersebut. Woolfolk menambahkan bahwa sumber motivasi intrinsik
adalah adanya faktor-faktor internal, seperti minat (interest), kebutuhan
needs), kenikmatan (enjoyment), dan
rasa ingin tahu (curiosity).
Motivasi ekstrinsik adalah kekuatan yang
menggerakkan individu melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (di kegiatan yang dilakukan). Motivasi
ekstrinsik sering kali dipengaruhi oleh insentif eksternal
seperti penghargaan dan hukuman. Misalnya, seorang siswa dapat belajar dengan keras
untuk sebuah ujian dengan tujuan untuk mendapatkan nilai bagus di mata pelajaran tersebut.
Siswa yang termotivasi secara ekstrinsik dikarenakan oleh faktor- faktor
eksternal dan tidak berkaitan dengan tugas yang dilakukan, mungkin menginginkan
nilai yang baik, uang, atau pengakuan terhadap aktivitas dan prestasi khusus.
Dalam
kasus ini tokoh Bungo menjadi sorotan karena diantara peserta lainnya dia
memiliki / motivasi yang tinggi untuk dapat membaca sebuah surat perjanjian. Pada
adegan ketika Bu Butet diperbolehkan memasuki kampung oleh ketua adat, Bungo
juga sudah dapat mengucapkan alfabet. Maka dapat disimpulkan
bahwa selain memiliki motivasi belajar intrinsik yang tinggi, Bungo juga
memiliki kesiapan dalam belajar.
Dalam
kasus ini tokoh Bungo menjadi perhatian karena diantara peserta lainnya dia
memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat membaca sebuah surat perjanjian. Pada
adegan ketika Bu Butet diperbolehkan memasuki kampung oleh ketua adat, Bungo
juga sudah dapat mengucapkan alfabet. Maka dapat disimpulkan bahwa selain memiliki
motivasi belajar intrinsik yang tinggi, Bungo juga memiliki kesiapan dalam
belajar.
3.
Sokola
Rimba
Sokola
Rimba adalah sekolah yang didirikan oleh Butet Manurung bagi anak-anak
pedalaman rimba di Hulu Sungai Makekal Bukit
Dua belas. Sekolah tersebut tidak menggunakan kurikulum sebagaimana
sekolah formal lainnya, namun kurikulum tersebut di buat olah Butet sendiri
yang sudah disesuaikan dengan kemampuan
dan kebutuhan anak-anak di Sokola Rimba.
Pendidikan
yang diberikan adalah yang memang dalam keseharian dilakukan oleh warga lokal, seperti
berburu, mengolah obat-obatan herbal, kepercayaan, dan adat-istiadat. Butet
Manurung juga menggolongkan tingkatan bagi Sokola Rimba, dimana anak sepantaran
TK diajarkan menangkap tikus, SD menangkap kancil, sampai besar diajarkan
memanjat pohon madu.
Sokola
Rimba termasuk ke dalam pendidikan yang menggunakan gabungan pembelajaran
berbasis masalah, kontekstual, kooperatif, dan pengalaman dimana pengetahuan
yang diberikan dapat diterapkan secara konkrit dalam hidup indvidu dan
masyarakat.
Metode
belajar yang Butet terapkan di Sokola Rimba meliputi ceramah, tanya jawab secara
singkat, dan karyawisata mengelilingi hutan. Ada beberapa cara yang Bu Butet terapkan selama
proses pembelajaran. Dia menggunakan
media biji karet dan
kapur ketika mengajari cara berhitung,
Dengan
begitu dapat disimpulkan bahwa Sokola Rimba ini menggunakan metode belajar
gabungan. Jika dilihat dari empat teori belajar yang sudah dipelajari, diantara
teori belajar kognitif, teori belajar behavioristik, teori belajar humanistik,
dan teori belajar sosial konstruktif. Maka Sokola Rimba menerapkan teori belajar
gabungan dari teori humanistik dan teori belajar kognitif.
1.
Teori
belajar kognitif adalah teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar
daripada hasil belajarnya. Teori ini berpandangan bahwa
belajar merupakan suatu
proses internal yang mencangkup ingatan, pengolahan
informasi, emosi, dan aspek-aspek lainnya. Belajar merupakan proses berpikir
yang sangat komplek.
2.
Teori
belajar humanistik tujuan belajar adalah untuk
memanusiakan manusia, sehingga mampu mengaktualisasikan diri dalam
hidup dan kehidupannya. Proses belajar
dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.
Siswa dalam proses belajar harus berusaha agar lambat laun mampu mencapai
aktualisasi dengan sebaik-baiknya.
BAB
III
Kesimpulan
Alhamdulillah,
segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, yang melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga makalah ini selesai untuk memenuhi tugas individu. Semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat yang berarti bagi kita semua khususnya
bagi penulis, agar dapat dijadikan referensi dalam mengajarkan dan menanamkan
nilai-nilai pendidikan karakter bagi peserta didik dengan baik dan benar.
1. Nilai-nilai pendidikan karakter
yang terdapat dalam film Sokola Rimba, antara lain: kerja keras, jujur, peduli
sosial, cinta tanah air, menghargai prestasi dan tanggung jawab. Keseluruhan
nilai tersebut merupakan nilai pendidikan karakter dasar yang harus dimiliki
oleh seorang calon pendidik pada khususnya sebagai fondasi karakter dalam
dirinya.
2. Relevansi nilai pendidikan karakter dalam film Sokola Rimba sangat baik untuk dijadikan referensi pengajaran dan penanaman nilai karakter bagi siapaun yang menontonnya. Terdapat relevansi antara nilai pendidikan karakter yang ada didalam film Sokola Rimba bagi para calon pendidik pada khususnya sebagai bahan yang dapat memotivasi untuk mengajar hingga di daerah yang terpencil sekalipun. Adapaun nilai-nilai pendidikan karakter tersebut antara lain kerja keras, jujur, peduli sosial, cinta tanah air, menghargai prestasi dan tanggung jawab.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar